STAI Asy-Syukriyyah mengikutsertakan dosen Prodi Perbankan Syariah Nurul Alim, SE, ME, pada konferensi 6th Southeast Asia International Islamic Philantrophy Conference (SEAIIPC) 2018 di Yogyakarta tanggal 24-26 April 2018 bertemakan “Ummah Excellence Through Intergrating Islamic Philanthropy and Islamic Social Finance Into The Mainstream Economy” (Keunggulan Umat melalui Pengintegrasian Filantropi Islam dan Keuangan Sosial Islam dalam Arus Utama Ekonomi). Konferensi yang berlangsung di Eastparc Hotel Yogyakarta tersebut diselenggarakan oleh Program Magister Ekonomi dan Keuangan Islam (MEK) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE-UII) Yogyakarta bekerja sama dengan Center for Islamic Philanthropy and Social Finance (CIPSF) Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Dompet Duafa Filantropi dan Institute Manajemen Zakat (IMZ) dan didukung oleh Islamic Economic Studies and Thoughts Centre (IESTC) dan Malaysia Doctorate Support Group (MDSG).

Konferensi seri ke-6 yang menjadi platform bagi mereka yang aktif berkontribusi pada pengembangan zakat, wakaf dan filantropi Islam ini menghadirkan keynote speaker antara lain  M. Fuad Nasar (Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag), Prof Dr Bambang Soedibyo (Ketua Umum BAZNAS),  Dr. Rahmat Hidayat (Komisioner BPKH), Prof. Dr. Abd. Halim Mohd. Noor (Direktur Center of Islamic Philanthropy and Social Finance (CIPSF) UiTM Malaysia), Dr Irfan Syauki Beik (Puskaz BAZNAS), Imam Rulyawan  (Dirut Dompet Duafa Filantropi), Iwan Rudiyana (Mandiri Amal Insani Foundation) dan Agus Widarjono, Ph.D (Direktur Pusat Kajian Ekonomi Islam FE UII). Masing-masing berbicara perihal integrasi zakat dan wakaf dalam filantropi di Indonesia dan Malaysia.

Konferensi ini berhasil menarik sekitar 50 akademisi dari berbagai kampus di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk mendiskusikan gagasan ilmiah seputar zakat dan wakaf serta perkembangan ekonomi syariah dunia saat ini. Nurul Alim mewakili institusi STAI Asy-Syukriyyah mempresentasikan papernya dengan judul “Proposing the Financial Ratios of Zakat Institution to Measure the Financial Performance and Syariah Compliance” (Menggagas Rasio Keuangan Lembaga Amil Zakat untuk Mengukur Kinerja Keuangan dan Kepatuhan Syariah). Di paper tersebut digagas 18 rasio keuangan yang dapat digunakan para stakeholder zakat mengukur keamanahan lembaga amil zakat melalui laporan keuangan yang dipublikasikannya.

Di akhir konferensi, peserta diajak untuk ‘seing is believing’ ke lokasi edukasi program berbasis zakat dan wakaf yaitu pemerdayaan ekonomi pengrajin batik Imogiri binaan Dompet Duafa dan pemberdayaan kesehatan Rumah Sehat BAZNAS Yogyakarta. Seperti dituturkan Achmad Thohirin, MA, Ph.D, Direktur MEK Pascasarjana UII sekaligus Chairman 6th SEAIIPC 2018, konferensi tersebut diharapkan menjadi forum silaturahmi akademisi yang memberikan kontribusi signifikan pada ekonomi Islam ke depan. (NA)